Perilaku Konsumen Pasar Digital
Nadhea Meivelia Cipta
20010078
---------
Saat pandemi covid 19, terjadi pergeseran paradigma dalam perilaku konsumen yang signifikan. Situasi ini telah memicu transformasi mendalam dalam cara konsumen berinteraksi dengan pasar. Dalam upaya untuk menjaga jarak sosial dan membatasi kontak fisik, banyak konsumen di seluruh dunia telah berbalik dari transaksi tatap muka di pasar tradisional ke ranah virtual pasar digital. Fenomena ini mendorong pertumbuhan pesat dalam sektor e-commerce, aplikasi perbelanjaan online, dan platform perdagangan elektronik lainnya. Konsumen kini semakin cenderung mencari, membandingkan, dan membeli produk serta layanan melalui platform digital, memberikan dorongan signifikan pada inovasi teknologi, strategi pemasaran online, serta logistik yang handal guna memenuhi permintaan yang semakin meningkat.
Pasar digital telah memberikan konsumen akses yang lebih luas terhadap berbagai produk dan penawaran dari seluruh dunia, dengan kemudahan berbelanja dari kenyamanan rumah mereka sendiri. Perkembangan ini juga telah mendorong perusahaan untuk lebih kreatif dan responsif dalam merancang pengalaman belanja yang menarik secara virtual, termasuk interaksi visual dan fitur-fitur yang memungkinkan konsumen untuk menguji produk secara virtual sebelum memutuskan untuk membelinya. Namun, seiring dengan manfaatnya, ada pula tantangan yang muncul, seperti masalah keamanan data, persaingan yang semakin ketat di antara pelaku bisnis online, dan tantangan logistik dalam mengatasi peningkatan volume pengiriman. Oleh karena itu, fenomena peralihan dari pasar tradisional ke pasar virtual digital akibat pandemi menjadi suatu perubahan yang memiliki dampak jangka panjang dalam cara kita berbelanja dan berinteraksi dengan produk serta layanan.
Apa yang melatarbelakangi pasar digital?
Pasar digital telah mengalami transformasi yang signifikan seiring dengan perkembangan teknologi Internet of Things (IoT) dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, IoT telah mengubah cara kita berinteraksi dengan dunia fisik melalui konektivitas internet yang memungkinkan perangkat-perangkat untuk saling berkomunikasi dan bertukar data secara otomatis. Dalam konteks pasar digital, IoT telah memberikan dampak yang luas pada berbagai sektor, termasuk manufaktur, kesehatan, transportasi, energi, dan lainnya.
Pasar digital terkait IoT telah menciptakan peluang bisnis baru yang mengubah cara perusahaan beroperasi dan berinteraksi dengan pelanggan. Misalnya, di sektor manufaktur, konsep Industri 4.0 muncul dengan pabrik-pabrik yang semakin terhubung dan otomatis, memungkinkan pengawasan dan pengaturan produksi secara real-time. Di sektor kesehatan, perangkat wearable dan sensor-sensor cerdas telah memungkinkan pemantauan kesehatan yang lebih baik dan personalisasi perawatan medis.
Namun, pertumbuhan pasar digital terkait IoT juga memunculkan tantangan baru, termasuk privasi data dan keamanan siber. Dengan semakin banyaknya perangkat yang terhubung, perlindungan data pribadi dan mencegah potensi serangan siber menjadi sangat penting.
Secara keseluruhan, pasar digital terkait IoT telah membuka pintu bagi inovasi yang berkelanjutan dan mengubah paradigma bisnis dan kehidupan sehari-hari. Perkembangan selanjutnya diharapkan akan melibatkan pengembangan lebih lanjut dalam hal konektivitas, analisis data, kecerdasan buatan, dan solusi keamanan untuk menjawab tantangan dan peluang di masa depan.
Apa yang dimaksud dengan perilaku konsumen?
Perilaku konsumen adalah studi tentang tindakan konsumen selama mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan mengabaikan produk dan layanan yang diharapkan akan memuaskan kebutuhan mereka (Schiffman & Wisenblit, 2015) . Perilaku konsumen menjelaskan bagaimana konsumen membuat keputusan atas penggunaan sumber daya yang tersedia seperti uang, waktu, dan pelayanan jasa.
Perilaku konsumen adalah proses fisiologis yang semuanya terkait dengan emosi konsumen. Dalam proses ini konsumen mulai dengan mengenali kebutuhan produk, dan kemudian menemukan cara atau media penyelesaian kebutuhan ini, membuat keputusan pembelian. Keputusan konsumen dalam pembelian berdasarkan hal berikut :
1) Pengenalan kebutuhan
2) Pencarian informasi
3) Evaluasi alternatif
4) Pembelian
5) Perilaku pasca pembelian
Teori consumen behavior memberikan warna bagi bagi sistem pemasar kontemporer saat ini, dimana produsen dan organisasi bisnis berusaha meningkatkan kualitas pemasarannya dengan memperhatikan aspek-aspek pembaharuan pemasaran yang teruji kredibilitasnya, yang dapat dijadikan pertimbangan dalam menyusun strategi guna memahami isu-isu kontemporer. Manifestasi konsumen terhadap isu-isu tersebut biasanya berhubungan dengan psikologi yang dirasakan konsumen ketika menggunakan suatu produk (Appiah-Gyimah et al., 2011). Dengan berbagai variabel psikologi yang memiliki keterkaitan satu sama lain dengan mempertimbangkan kesamaan pendapat dari ahli pemasaran dalam hal segmentasi dan respon pelanggan setelah merasakan program marketing mix yang telah dijalankan oleh perusahaan.
Secara umum karakteristik konsumen berorientasi pada variabel demografi, psikografis, dan variabel perilaku yang konkretnya dapat membantu marketer memahami faktor-faktor apa yang mendasari keinginan konsumen. Karakteristik konsumen dipengaruhi oleh lingkungan budaya dari awal konsumen dibesarkan hingga dimana seorang konsumen tinggal saat ini serta bagaimana interaksi kehidupan sosial dan lingkungan sosialnya.
Apa yang dimaksud dengan pasar digital?
Secara umum konsumen dibedakan tiga jenis (Adhikara, 2005):
1. Impulsive buyer, pembeli produk secara cepat.
2. Patient buyer, pembeli produk setelah membuat berbagai perbandingan.
3. Analitycal buyer, pembeli yang malakukan riset terlebih dahulu sebelum memutuskan membeli.
Pencarian informasi konsumen dalam pasar digital merupakan proses mengumpulkan dan menganalisis data untuk memahami perilaku, preferensi, dan kebutuhan konsumen. Informasi ini dapat digunakan oleh perusahaan untuk mengembangkan strategi pemasaran yang lebih efektif dan relevan. Berikut adalah beberapa contoh pencarian informasi konsumen pasar digital beserta penjelasan:
1. Analisis Data Demografis, Mengumpulkan informasi tentang usia, jenis kelamin, lokasi geografis, pendapatan, dan faktor demografis lainnya dari konsumen. Ini membantu dalam mengidentifikasi segmen pasar yang paling potensial. Contohnya, perusahaan pakaian anak-anak dapat menggunakan informasi ini untuk menargetkan iklan mereka kepada orangtua dengan pendapatan menengah ke atas.
2. Melacak Jejak Online, Memantau aktivitas online konsumen, seperti interaksi dengan situs web, media sosial, atau iklan. Ini membantu perusahaan memahami bagaimana konsumen berinteraksi dengan merek secara digital. Contohnya, platform e-commerce dapat melacak produk yang dilihat atau ditambahkan ke keranjang belanja oleh pengguna, kemudian menggunakan informasi ini untuk memberikan rekomendasi produk yang sesuai.
3. Survei Online, Menggunakan survei online untuk mengumpulkan data langsung dari konsumen tentang preferensi, kebutuhan, dan sikap mereka terhadap produk atau layanan tertentu. Contohnya, perusahaan makanan cepat saji dapat mengadakan survei online untuk memahami preferensi rasa dan ukuran porsi yang diinginkan oleh konsumen.
4. Analisis Pola Pembelian, Menganalisis pola pembelian konsumen, termasuk frekuensi pembelian, jenis produk yang dibeli, dan jumlah yang dihabiskan. Ini membantu dalam mengidentifikasi tren pembelian dan mengembangkan strategi promosi yang sesuai. Contohnya, toko online fashion dapat mengamati bahwa penjualan pakaian musim panas meningkat selama bulan-bulan tertentu, sehingga mereka dapat menyesuaikan persediaan dan kampanye promosi.
5. Pemantauan Ulasan dan Feedback, Melacak ulasan konsumen tentang produk atau layanan di platform seperti situs review atau media sosial. Ini memberikan wawasan tentang kekuatan dan kelemahan merek, serta memungkinkan perusahaan untuk merespons secara proaktif terhadap masalah yang muncul. Contohnya, restoran dapat memantau ulasan di platform seperti Yelp atau Google Reviews untuk mendapatkan umpan balik tentang kualitas makanan dan layanan mereka.
6. Analisis Interaksi Sosial Media, Memantau interaksi konsumen dengan merek di media sosial, termasuk like, komentar, dan berbagi konten. Ini membantu dalam memahami sentimen konsumen terhadap merek dan kampanye pemasaran tertentu. Contohnya, perusahaan kosmetik dapat menganalisis bagaimana pengguna berinteraksi dengan konten tutorial makeup yang mereka bagikan di platform seperti Instagram.
7. Penggunaan Teknologi Pemetaan, Menggunakan data geografis untuk mengidentifikasi pola perilaku konsumen berdasarkan lokasi. Ini dapat membantu dalam mengembangkan strategi pemasaran yang lebih lokal dan relevan. Contohnya, restoran cepat saji dapat menggunakan data pemetaan untuk menentukan lokasi yang paling strategis untuk membuka cabang baru.
Pencarian informasi konsumen dalam pasar digital sangat penting untuk mengembangkan strategi pemasaran yang efektif dan memenuhi kebutuhan konsumen dengan lebih baik. Dengan memahami perilaku dan preferensi konsumen, perusahaan dapat menghasilkan pengalaman yang lebih baik dan mendapatkan keuntungan kompetitif dalam pasar yang semakin digital.
Faktor-Faktor Karakteristik Konsumen
1. Budaya
Nilai-nilai budaya menjadi salah satu indikator penentu konsumen untuk melakukan pembelian.
“a pattern of basic assumption-invented, discovered, or developed by a given group as it learns to cope with its problems of extemal adaptation and internal integration-that has worked well enough to be considered valuable and, therefore to be taughgt to new members as the correct way to perceiveed and feel in relation to those problems” – Schein Edgar.H (1983)
Hal ini mengandung beberapa makna yaitu:
1. Adanya seperangkat nilai-nilai yang dianut bersama oleh para anggota masyarakat, yaitu menyangkut ‘apa yang baik, dan apa yang tidak sesuai’
2. Nilai-nilai yang dianut bersama seringkali diterima begitu saja
3. Adanya simbol-simbol, ritual, artifak dimana budaya itu dikomunikasikan.
Menurut Greenberg, Baron (2000), jika ditinjau dari segi fungsinya, budaya memegang peran penting dalam 3 hal, yaitu:
1) Memberikan sense of identity kepada setiap anggota masyarakat
2) Mendorong terwudujudnya komitemen terhadap pencapaian tujuan kelompok
3) Memperjelas dan memperkuat pola perilaku standar yang berlaku pada komunitas yang bersangkutan.
2. Sosial
Menurut Kotler (2005:206), perilaku seorang konsumen dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial seperti kelompok acuan yang terdiri dari semua kelompok yang memiliki pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang, keluarga yang merupakan organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat, serta kelompok peran dan status dimana kedudukan dapat memengaruhi konsumen dalam melakukan pembelian.
3. Karakteristik Pribadi
Kepribadian akan mengarahkan perilaku seseorang secara khas dan konsisten. Pemahaman terhadap aspek personality memungkinkan produses mengetahui kecenderungan-kecenderungan konsumen terhadap cara melakukan konsumsi. Jika membicarakan masalah kepribadian maka akan terkait konsep mengenai gaya hidup. Karena gaya hidup sesungguhnya merupakan ekspresi dari ciri kepribadian. Gaya hidup merupakan manifestasi eksternal dari karakteristik-karakteristik kepribadian individual (Mowen dan Minor, 2001).
Pasca pembelian konsumen dalam lingkungan digital melibatkan serangkaian interaksi dan aktivitas yang terjadi setelah konsumen melakukan pembelian produk atau layanan secara online. Berikut adalah contoh-contoh dari pasca pembelian konsumen digital beserta penjelasannya:
1. Konfirmasi Pembelian dan Notifikasi, setelah konsumen menyelesaikan pembelian, mereka akan menerima konfirmasi pembelian melalui email atau pesan teks. Ini memberikan rasa kepastian kepada konsumen bahwa transaksi mereka telah berhasil.
2. Pengiriman dan Pelacakan Pesanan, jika produk fisik dibeli, konsumen akan menerima informasi tentang pengiriman dan nomor pelacakan untuk melacak status pesanan. Mereka dapat mengikuti proses pengiriman hingga produk tiba di lokasi yang dituju.
3. Umpan Balik dan Ulasan Produk, setelah menerima produk, konsumen mungkin diberikan kesempatan untuk memberikan ulasan atau umpan balik tentang produk yang mereka beli. Ini membantu calon pembeli lain dalam membuat keputusan pembelian dan memberikan wawasan berharga kepada perusahaan.
4. Layanan Pelanggan Pasca Pembelian, jika ada masalah atau pertanyaan setelah pembelian, konsumen dapat menghubungi layanan pelanggan melalui email, obrolan langsung, atau telepon. Perusahaan harus siap memberikan dukungan yang efisien dan responsif.
5. Program Loyalty dan Diskon, setelah pembelian, konsumen dapat dimasukkan ke dalam program loyalitas atau mendapatkan tawaran diskon khusus untuk pembelian berikutnya. Ini mendorong konsumen untuk tetap berhubungan dengan merek dan kembali untuk transaksi lebih lanjut.
6. Tawaran Produk Tambahan, berdasarkan produk yang dibeli, perusahaan dapat mengirim tawaran produk tambahan atau aksesori yang relevan melalui email atau iklan terarah. Ini dapat meningkatkan nilai transaksi dan memenuhi kebutuhan konsumen yang lebih spesifik.
7. Pembaruan Produk dan Penawaran Terbaru, konsumen dapat menerima pembaruan tentang produk baru, penawaran khusus, atau berita terbaru dari merek melalui langganan email atau media sosial. Ini membantu memelihara keterlibatan dan kesadaran merek.
8. Klaim Garansi dan Pengembalian, jika ada masalah dengan produk atau jika konsumen ingin mengajukan klaim garansi, proses pengembalian atau perbaikan harus tersedia dengan jelas dan efisien.
9. Undangan Partisipasi dalam Survei Kepuasan, perusahaan dapat mengundang konsumen untuk berpartisipasi dalam survei kepuasan setelah pembelian. Ini membantu perusahaan memahami sejauh mana kepuasan konsumen dan mengidentifikasi area yang mungkin perlu ditingkatkan.
10. Pemberian Rekomendasi Produk Lainnya, berdasarkan preferensi dan pembelian sebelumnya, perusahaan dapat memberikan rekomendasi produk lain yang mungkin menarik minat konsumen.
Seluruh proses pasca pembelian konsumen digital bertujuan untuk memastikan pengalaman positif setelah pembelian, memelihara hubungan dengan konsumen, dan membangun loyalitas jangka panjang.
Dalam pasar online segmentasi pasar dapat didasarkan pada faktor-faktor kekuatan jaringan internet yang disertai pengalaman online, lifestyle, tekanan waktu dan pembelian berbasis katalog. Hasil penelitian yang dilakukan oleh McKinsey & Mega Matrix disebutkan dalam Adhikara, (2005) bahwa konsumen digolongkan menjadi berikut.
1. Connectors, mereka yang memiliki jaringan internet baik tapi hanya untuk komunikasi, maka mereka lebih suka dengan merek offline.
2. Samplers, pengguna ringan yang mencoba banyak domain
3. Simplifiers, mereka yang pengguna internet digunakan untuk efisiensi, sehingga menuntut serba kemudahan
4. Routines, pengguna ringan internet.
Secara umum konsumen dibedakan tiga jenis (Adhikara, 2005):
4. Impulsive buyer, pembeli produk secara cepat.
5. Patient buyer, pembeli produk setelah membuat berbagai perbandingan.
6. Analitycal buyer, pembeli yang malakukan riset terlebih dahulu sebelum memutuskan membeli.
.png)
Komentar
Posting Komentar